PRAJA
Bismillah..
Pertama kali merasa membutuhkan sebuah kendaraaan untuk beraktivitas, bingung bagaimana merasionalisasikannya kepada orangtua. Tatkala itu, hati masih terpaut pada PSDMO Bem Kema Unpad Kabinet Sigap. Saya mengamati sosok yang mengajarkan saya banyak hal, Teh Tya Nur Salma Zafirah, yang dengan mobilitasnya yang tinggi, ia semakin banyak menyebarkan kebaikan. Subhanallah. Pun melihat sebuah film, mendengar kisah lalu menganalisis, tampaknya kendaraan sudah menjadi hal yang termasuk kebutuhan pokok.
Lalu pernah mendengar bahwa kendaraan apapun, jadikanlah sebagai sarana dakwah, jadikan sarana menggapai ridho Allah, merangkai tangga menuju Jannah. Dengannya kita berlari, dengannya kita mengejar berbagai aktivitas yang memberikan banyak kebaikan dan manfaat. Lalu, saya berpikir terkait amanah PSDMO kala itu, masih di-upgrade oleh Teh Tya, dan saya tergoda untuk menganalisis kebutuhan saya terhadap kendaraan. Pada awalnya, saya benar-benar yakin bahwa jalan kaki ataupun menaikin angkot adalah sarana dakwah. Ya, keringat dan semangat itu kendaraan :)
Ah ya, saat itu Oktober sedang bergulir dan kampus sedang riuh ricuh dengan PRAMA, tiga orang dari tiga calon pasangan yang diusung itu adalah teman saya, tentu saya sangat memperhatikan situasi terkini PRAMA. Diluar itu, PSDMO sedang berdayu-dayu dengan School of Leader IV. Dengan pertimbangan mempersingkat waktu dan menghemat uang, setelah analisis panjang, saya beranikan mengajukan keinginan yang didasari kebutuhan itu kepada orangtua. Lalu, dengan tekat bulat setelah meluruskan niat, saya pun membujuk mereka.
Saat itu adalah kali ke-empat saya mengajukan hal yang sama, dengan rasionalisasi yang lebih kuat, mempertimbangkan kondisi amanah, rasionalisasi perhitungan efisiensi waktu dan uang, serta keyakinan bahwa niat lurus semata karena Allah yang terejawantahkan dalam kemudahan dalam mobilisasi amanah. Tidak mudah meyakinkan orangtua saya, membuat mereka memberikan kepercayaan. Dalam mata mereka, saya adalah anak yang keseimbangan tubuhnya kurang baik. Alasan mereka sederhana KHAWATIR. Saya tidak memungkiri itu, saya tahu benar keseimbangan motorik dan koordinasi motorik saya kurang baik, meskipun sudah mahir bermotor sejak duduk dikelas 3 SMP. Motorik yang sebenarnya dulu dapat terasah dengan baik ketika merintis jalan menjadi atlet tenis dengan segenap latihan fisik yang luar biasa.
Akhirnya, saya berinistiatif mengajak Ayah saya untuk menguji kemampuan bermotor saya. Ya, salah satu jalan terbaik menumbuhkan kepercayaan dengan menunjukkan kemampuan bahwa kita mampu untuk dipercaya. Ayah saya pun setuju saya bonceng ke Jatinangor kala itu. Voila! Alhamdulillah, keesokan harinya Ayah mengajak saya membuat SIM C. SIM yang dengan sengaja tidak Ayah saya fasilitasi karena khawatir saya membawa kabur motor di rumah dengan SIM C. Padahal, SIM A di dompet saya dalam jangka waktu kurang dari 2 tahun akan habis dan tidak terpakai karena orangtua saya tidak percaya saya mampu membawa mobil.
Lalu, saya memakai motor Mio Merah yang lebih sering menganggur di garasi rumah. Mio yang kemudian saya beri nama PRAJA. Sederhana, saya ingin mempunyai motor yang tangguh sehingga bisa menemani saya dengan total dalam segala aktivitas. Lalu, sebagai pendamping saya kemanapun, saya lebih nyaman bila ia gagah sebagai ‘motor yang diklasifikasi sebagai laki-laki’. Belum punya suami yang bisa menemani, ya motor pun jadi, teman setia kemana-mana :)
Saya tahu persis resiko yang harus saya hadapi dengan kondisi keseimbangan saya. Jatuh menjadi makanan biasa, senggol sana-sini ketika kurang mampu mengendalikan motor adalah kejadian rutin setiap hari. Bengkak, berdarah, memar, luka, pegal bukan hal yang jarang.
Pertama kali jatuh ketika menuju Lembang. Suatu hari Jumat di bulan Oktober. Datang di acara SOL IV. Ketika itu malam sudah mengikis senja. Itulah pengalaman pertama kali saya menyetir motor jarak (lumayan) jauh: Jatinangor-Lembang, pertama kali menyetir motor pada malam hari, pertama kali mengendarai motor saat hujan. Bukan hal yang mudah memelihara konsentrasi pada malam hari dengan keadaan hujan, fokus yang menurun karena belum sempat makan setelah seharian shaum, ditambah tubuh letih dan tidak punya kacamata. Jatuhlah saya. Pertama kali menggores Praja.
Lalu, pengalaman jatuh sudah tidak terhitung lagi, menginjak bulan ke tujuh bersama Praja. Jatuh sendiri sering, menabrak kendaraan lain lalu jatuh pernah. Hingga jatuh terbaru adalah sore ini. Praja semakin tergores-gores saya rasa. Terkadang saya mempertanyakan kemampuan saya bermotor, sudah berapa kali tukang pijat yang sama mendatangi rumah karena saya jatuh dari motor. Setelah perdebatan pikiran yang panjang: SAYA BUTUH MOTOR, SAYA BUTUH PRAJA. Meskipun orangtua sudah mulai mengawasi pemakaian motor, beberapa sahabat memarahi kebiasaan jatuh saya karena berbahaya bagi fisik sebagai wanita, saya tetap bermotor. Jaga rahim, kata mereka. Itu saya camkan sekali dan saya butuh motor. Bukan hal yang kemudian menjadi kontradiktif kan? Saya hanya perlu lebih berhati-hati dengan keseimbangan. Jatuh dan menabrak itu bonus, memar dan luka adalah prasasti perjuangan.
Maaf dan terima kasih PRAJA..
Tetap setia ya menemani saya kemana-mana :)
Si Mba dan Si Adik
Ibu bilang kami jauh berbeda. Si Mba dan Si Adik.
Ibu bilang Mba cengeng, sering menangis dan sensitif. Ibu bangga dengan Adik yang tegar jarang menangis dan cuek. Ibu sayang keduanya.
Ibu senang dengan Mba yang bersemangat dan tekad kuat. Ibu senang dengan Adik yang kekanakan dan manja.
Ibu bilang Adik terlalu banyak tidur. Ibu bilang Mba selalu kurang tidur. Ibu tidak pernah mempermasalahkan itu.
Ibu bilang hati Mba lembut sekali sejak SD, sangat peduli dengan orang lain hingga sering dimanfaatkan. Tertindas, kata Ibu. Ibu bilang Adik sangat cuek sejak SD, motor penggerak di teman-temannya, sosok dominan, sering menindas. Mendorong teman hingga jatuh di ayunan sudah biasa baginya.
Ibu bilang Mba legowo, Ibu bilang Adik egois.
Ibu bilang Mba serius sekali dan berani coba hal baru, tipe survival handal yang selalu belajar cepat. Ibu bilang Adik pasif dan senang hidup santai tanpa tekanan dan tantangan.
Ibu bilang Mba sangat cerewet dan banyak cerita tentang apapun. Ibu bilang Adik dingin, tidak banyak omong, sibuk sendiri dengan hapenya dan enggan banyak cerita kalau tidak dikorek dalam.
Ibu bilang Mba rajin dan nggak pernah diem di rumah. Ibu bilang Adik santai dan banyak menghabiskan waktu untuk tidur.
Ibu bilang Mba rajin baca dan tau banyak hal. Ibu bilang Adik malas sekali membaca dan tidak tahu banyak hal saat tidak peka terhadap lingkungan.
Ibu bilang kamar Mba selalu rapih, Ibu bilang kamar Adik lebih sering berantakan.
Ibu bilang Mba terlalu rajin mandi, Ibu bilang Adik malas mandi.
Ibu bilang Mba rajin diskusi dengan Ibu, Ibu bilang Adik lebih senang nonton Spongebob.
Ibu bilang wajah Mba mirip ayah, Ibu bilang wajah Adik mirip Ibu,
Ibu kini banyak sendiri. Mba pergi, Adik mengikuti Mba dengan aktif di kampusnya hingga sangat sibuk. Adik berubah menjadi lebih dewasa dan mandiri di kosannya. Rajin mandi dan rajin belajar. Ibu bilang adik sekarang lebih tau banyak hal dan sudah cukup mahir public speaking. Ibu bilang adik berubah, sekarang jadi sering membaca dan sering absen nonton Spongebob. Ibu bilang Adik berubah meski masih ‘dingin’.
Ibu sayang Adik, Mba sayang Adik. Kita kangen Adik.
Special for Adik, jaga kesehatan yaaa, miss you so :’)
ENFP - part 2 :D
ENFP - THE ADVOCATE :)
ENFPs are introspective, values-oriented, inspiring, social and extremely expressive. They actively send their thoughts and ideas out into the world as a way to bring attention to what they feel to be important, which often has to do with ethics and current events. ENFPs are natural advocates, attracting people to themselves and their cause with excellent people skills, warmth, energy and positivity. ENFPs are described as creative, resourceful, assertive, spontaneous, life-loving, charismatic, passionate and experimental.
So this is why people call me ‘an open book’ -,-
—————
“ENFPs are energetic and enthusiastic leaders who are likely to take charge when a new endeavor needs a visionary spokesperson. ENFPs are values-oriented people who become champions of causes and services relating to human needs and dreams. Their leadership style is one of soliciting and recognizing others’ contributions and of evaluating the personal needs of their followers. ENFPs are oftencharismatic leaders who are able to help people see thepossibilities beyond themselves and their current realities. They function as catalysts.”
—————
“They can’t bear to miss out on what is going on around them; they must experience, first hand, all the significant social events that affect our lives.”
—————
“ENFPs are warm, enthusiastic people, typically very bright and full of potential. They live in the world of possibilities, and can become very passionate and excited about things. Their enthusiasm lends them the ability to inspire and motivate others, more so than we see in other types. They can talk their way in or out of anything. They love life, seeing it as a special gift, and strive to make the most out of it.”
:)
(Source: http)
Sama
Sama tidak berarti sejalan.
Sama tidak berarti satu arah.
Sama tidak berarti bersama.
Sama tidak berarti satu visi.
Sama tidak berarti tidak ada perbedaan.
Sama bisa jadi sebuah kebetulan.
Sama tidak bisa digeneralisasi.
Dan satu yang sama, Allah tujuan kita.
Sekian
ENFP - terstimulus oleh Fitriany Juhari :D
ENFPs represent between 6 and 8% of the U.S. population
Curious, energetic, adaptable, and creative, ENFPs like considering unconventional approaches. They enjoy batting around ideas and finding creative solutions and are energized and intrigued by new possibilities and anything out of the ordinary. ENFPs tend to be talkative, enthusiastic, playful, and generally fun-loving people. Warm and caring, ENFPs have strong personal values upon which they base most decisions. Conversations with ENFPs can be very circular as they excitedly move from one topic to the next, making connections and associations.
Unconventional and occasionally irreverent, they pride themselves on their uniqueness and originality. Optimistic, and spontaneous, ENFPs have a strong sense of the possible. For them, life is an exciting drama. Because they are so interested in possibilities, ENFPs see significance in all things and prefer to keep lots of options open.
Personality Type can be a gateway your ideal career, relationship, parenting and even your sales and networking. You can learn more about your personality type by purchasing a Custom Personality Type Report.
——————-
Saya banget ya ini teh? Hehe.
Lebih Penting Mana?
Pagi yang dingin, tubuh terjaga saat ruh kembali ditancapkan. Terlambat bangun dari biasanya, saya lalu segera shalat di sisa-sisa akhir malam hingga shubuh. Tubuh masih terasa tidak nyaman, pusing masih menggelayuti kepala. Dengan slogan “ga boleh cengeng”, saya menyemangati diri. Setelah menunaikan agenda pagi, as usual, saya segera bersiap pergi. Harus jam 6 di kampus. Saya melongok keluar kamar, sejak kemarin mamah sakit, dan tidak seperti biasanya, setelah adzan berkumandang, mamah masih berselimut.
Saya mengetuk pintu kamar, lalu membangunkan mamah. Papah sedang dinas di luar kota jadi tidak ada yang menyapa mamah dan saya sepulang dari masjid. Mamah lalu shalat sementara saya bersiap.
“Jeng, nasi jangan dimakan ya, basi” sahut Mamah lemah.
“Iya mah” jawab saya sembari langsung mengambil panci untuk merebus air, memasak mie instan. Segera setelah itu, saya kembali bersiap.
“Jeng, ini kompor kok ditinggal, nanti gosong.”
“Oh iya mah, lupa, Ajeng ga usah sarapan aja ah, takut ga sempet, tolong matiin ya mah, Ajeng agak terlambat.”
“Baru juga jam 05.05”
Setelah bersiap, Mamah menghampiri saya di kamar dengan wajah sayu, ”Jeng itu mie udah siap”
“Lah kok dimasakin?”
“Udah cepet sarapan, nanti kamu terlambat.”
*Baiklah, kesalahan pertama, bangun terlambat dan membuat mamah iba karena saya belum sarapan
————
Saya mulai makan, mamah tampak bersandar di kasur. Ingin membatalkan pergi, namun akhirnya saya memutuskan tetap pergi dengan pertimbangan mamah sudah tidak terlalu pucat seperti kemarin, demamnya sudah turun pula. Terngiang sms mamah kemarin siang:
“Jeng, malam ini pulang ya, jangan nginep lagi di kosan temen. Mamah demam, ga enak badan. Papah dinas di Jakarta sampai Rabu. Mamah gamau sendirian di rumah.”
Merinding inget sms itu, mamah kan ga pernah mohon-mohon, mamah tipe tegar+keras yang ga suka menunjukkan kalo mamah lemah. Pengen nangis. Anyway, saya beranjak ke bak cuci piring yang penuh dan mencuci piring. Melirik jam, sudah pukul 05.20 kalau saya tidak berangkat dalam waktu 10 menit maka saya akan terlambat. Di tengah cuci piring mamah menghampiri.
“Jeng, mamah panggil dari kamar ga kedengeran ya? Udah ga usah cuci piring, nanti terlambat. Udah, sok berangkat.”
“Yah mamah, jangan, nanggung.”
“Udah, gih. Jangan pulang malem ya nanti.”
“Iyah, siap.”
Berangkatlah saya.
*Kesalahan kedua: merelakan tugas begitu saja padahal mamah sedang sakit.
———
Siang ini terik. Air wudhu sudah mengering di wajah saya. Selesai salam, saya menunduk, banyak sekali hal yang ingin diadukan kepada Dzat Agung yang Maha Pendengar. Handphone bergetar. Segera saya buka, tidak biasanya. Tenggorokan tercekat, napas tertahan. Mamah sakit dan hanya mengirim sms. Saya langsung menelpon Mamah.
“Mah, dimana?”
“Didepan rumah. Tadi beli makanan dulu, mamah ga kuat masak. Pusing jeng, kunci mamah jatoh gatau dimana sekarang.”
Suara mamah lemeeees banget, saya bener-bener khawatir mamah pingsan. Mamah jarang sakit, demam juga ga pernah selama saya 20 tahun hidup. Mamah sekarang demam, berarti sakit mamah bukan sakit yang biasanya.
“Mamah ga bisa masuk rumah? Mah, tahan bentar yah. Ajeng pulang. Kenapa malah sms kok ga telpon”
“Kamu pulang gapapa? Itu BEM gimana? Iya mamah ga bisa masuk rumah, lemes banget, ini lagi nunggu diatas motor. Mamah takut kamu sibuk.”
“Gapapa mah, Ajeng pulang yah, kalo terdesak baru balik lagi nanti.”
“Yaudah, jangan ngebut-ngebut yaa”
“iyaaa”
Pulang lah saya, agak ngebut, takut mamah pingsan.
*Kesalahan ketiga: kenapa ga masak dulu tadi, mamah sampe keluar rumah. Tadi pagi justru dimasakin.
Saya merasa sangat bersalah, akhir-akhir ini sibuk memikirkan yang lain, hingga agak mengabaikan Mamah. Teringat tadi malam, Mamah sakit namun masih sempat memanggil tukang pijat dan menghampiri saya yang tergeletak di kasur. Dengan wajahnya yang ceria menghibur saya yang sakit padahal Mamah sendiri sedang demam. T.T
Sampai di rumah, mamah pucat dan terlhat lega. Saya juga lega mamah ga pingsan. Ketika sudah membuka pintu, saya ingin balik lagi ke Jatinangor. Mamah tersenyum lemah, “Kamu mau balik lagi?”
“Iya mah, mau ngontrol kepala biro.”
“Udah delegasiin aja.”
“Tapi mah ga bisa didelegasiin, ini emang tugas Ajeng.”
“Kan mamah lagi sakit, Mba”
Saya terdiam.
“Lebih penting mana?”
Saya makin terdiam.
“Udah dirumah aja ya, temenin mamah.”
Saya beneran mau nangis.
Malu sama Allah. Mamah jarang ngeluh dengan kegiatan saya, legowo dan mau mengerti saya yang menunda kelulusan, aktif menanyakan skripsi saya yang mandek tapi ga pernah marah. Meanwhile, saya hampir mengabaikan tugas birul walidain. Lalu Allah menegur saya.
Maaf Mamah! :(
*Mengawasi mamah yang tertidur, masih demam :(
Bintang itu lambang kerendahan hati, bukan simbol arogansi. Bintang itu selalu beredar dalam jalur orbitnya, sesuai kehedak-Nya. Saat bintang keluar dari jalur yg sudah ditetapkan, yang hancur bukan cuma dirinya tp juga yang ada di sekitarnya. Begitulah para jenderal dan pemimpin lainnya. Tanda bintang adalah kehormatan sekaligus tanggung jawab. Saat salah, luas akibatnya.
– Abah IwanBaju Koko
- Papah:
- Saya:
- Papah:
- Saya:
- Papah:
- Saya:
- Mamah:
- Saya:
- Adik saya:
- Saya:
- Mamah:
- Papah:
Perkedel Istiqomah
Bismillah..
Lucu. Perkedel istiqomah. Perkedel macam apa itu? Bukan, bukan perkedel kentang yang sebenarnya. Hanya kiasan.
Esok, rumah saya akan kedatangan banyak tamu, insya Allah. Ada acara syukuran, dan acara tersebut pasti akan lengkap dengan tumpeng. As usual.
Simple but we cook everything ourselves. Saya dan Mamah lalu berbagi tugas. Mamah yang memang sudah stay on di rumah, sudah selesai memasak beberapa menu seperti ayam goreng, telur balado, orak-arik tempe, dan persiapan sayur serta nasi kuning untuk besok. Saya yang memang seharian berkegiatan di luar rumah dan pulang menjelang maghrib, diamanahi membuat perkedel kentang. Benar, perkedel kentang bukan perkedel istiqomah. Lalu, dengan semangat membara dan ceria saya memasak perkedel (memasak itu menyenangkan bukan?), mulai dari mengupas kentang hingga mencetak perkedelnya.
Tidak ada yang menarik, seperti biasa saja, hingga ketika saya mencetak kentang tersebut. Lelah memang, sudah lewat dari jam 9, rasa kantuk pun mulai menghinggapi pelupuk mata. Meskipun begitu, semangat mencetak kentang tidak luntur, membulat-bulatkannya secara manual, satu per satu diiringi murattal dari headset yang disambungkan pada handphone. Kantuk dan lelah bukan penghalang hingga:
Mamah: “Lah ini kok petot perkedelnya? Yang ini kok cungkring?”
Saya: “Ah masa sih mah? Yang mana gitu? Perasaan sama aja ah Mba Ajeng bikinnya.”
Mamah: “Tuh liat aja nih, kurus gini. Jangan gepeng teuing Jeng ditekennya, rada gendut aja.”
Saya: “Iya sih diliat-liat mah. Perasaan bikinnya sama gede deh mah.”
Mamah: “Lah itu perasaan, ini buktinya.”
Tiba-tiba saya teringat satu hal: ISTIQOMAH
Mengapa? Meskipun hal yang sepele, mencetak kentang menjadi perkedel yang besar dan kepadatannya sama rata itu memang membutuhkan ke-istiqomah-an. Tidak mudah mencetak kentang sama besar, dibutuhkan keuletan, ketelitian dan keteraturan. Sama seperti hidup, dalam menjalankan banyak hal, segala tugas duniawi: kuliah, organisasi, suatu kegiatan hobi/rutin hingga aktivitas keagamaan, ibadah dan amalan harian, maupun berdakwah - membutuhkan ke-istiqomahan. Mungkin saya garus bawahi: istiqomah diperlukan pada semua hal yang mengarahkan pada kebaikan dan bermanfaat.
Ayo berkaca pada diri kita: sudah seberapa istiqomah kah kita dalam melakukan amal-amal sholeh? Bagaimana dengan kegiatan yang baik dan bermanfaat.
Self reflection, cukup jawab dalam hati.
Lalu bayangkan, kerja-kerjamu dalam hidup, berapa banyak yang masih bertahan karena keteguhan dirimu memegang prinsip Islam? Semoga kita semua tidak melupakan firman Allah yang bergitu Indah: Maka beristiqomahlah (tetaplah) pada jalan yang lurus menuju kepada Allah dan mohonlah ampun kepada-Nya”. (QS. Fushshilat [41]: 6
Atau memang sudah ingat, tapi lalu khilaf dan lupa dan terlena dengan berbagai alibi dan excuse seperti ‘lelah’. Ataukah itu sebenarnya bentuk yang disamarkan dari ‘futur’?
Ayo kembali refleksi diri, sambil terus membuat perkedel kentang (haha, cukup saya saja yang introspeksi sambil membulat-bulatkan kentang). Kembali lagi kita ingat bahwa istiqomah itu adalah salah satu jalan dari sekian banyak jalan menuju surga. semoga kita masih ingat bahwa Allah mengganjar Jannah-Nya untuk siapapun manusia yang senantiasa berjalan pada jalan yang lurus semata kepada-Nya: Bagaimana mungkin (tidak mungkin) kalian menjadi kafir, sedangkan ayat-ayat Allah dibacakan kepada kalian, dan Rosul-Nya pun berada di tengah-tengah kalian? Dan barang siapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah maka sesungguhnya dia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS. Ali ‘Imran [3]:101)
Semoga kisah para Rasul dan Nabi senantiasa lekat dihati, bukan untuk sekedar di-recall bila ada momentum untuk mengingatnya, namun senantiasa mengiringi langkah untuk diamalkan. Ingatkah kegigihan Nabi Nuh berdakwah selama 950 tahun? Atau keteguhan hati Nabi Yusuf ketika mampu menahan godaan dari Zulaikha? Atau kisah Baginda Rasulullah, Nabi Muhammad SAW yang masih tetap menyampaikan risalah Allah dengan begitu istiqomah ditengah ancamaan dan cercaan dari kaum kafir? Kisah-kisah yang begitu indah terangkum dalam Al-Qur’an sahabat. Al-Qur’an yang insya Allah selalu kita genggam kemanapun kita melangkah, isinya kita amalkan dan melekat dihati, maupun tilawah dalam berbagai kesempatan yang kita luangkan serta ayat-ayat suci yang selalu kita alunkan sebagai hapalan kita. Ya begitulah, kisah indah yang penuh hikmah dan ibrah maupun sebagai peringatan: “Dan semua kisah dari rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Huud [11]: 120)
Istiqomah, perlahan dan tidak bisa instan, mudah sekali goyah bila rapuh. Istiqomah berat, dan memang seperti itulah jalan menuju surga, tidak mudah dan penuh halangan melintang. Pahit, namun berbuah manis di penghujungnya.
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu”. (QS. Fushshilat [41]: 30)
Semoga hati ini selalu berdzikir kepada Allah, mengingat-Nya dalam setiap langkah dan istiqomah meskipun berdarah-darah dijalan-Nya.
Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha mengatakan bahwa doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah doa, “Yaa muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala diinik ” artinya “Wahai Zat yang membolak-balikkan hati teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Hakim, dishahihkan oleh Adz Dzahabi, lihat pula Shahihul Jami’)
Dari Aisyah r.a., bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian (maksudnya; istiqamahlah dalam amal dan berkatalah yang benar/jujur) dan mendekatlah kalian (mendekati amalan istiqamah dalam amal dan jujur dalam berkata). Dan ketahuilah, bahwa siapapun diantara kalian tidak akan bisa masuk surga dengan amalnya. Dan amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang langgeng (terus menerus) meskipun sedikit. (HR. Bukhari)
Wallahu’alam bish shawab..
Selamat berjuang saudaraku! Sudahkan perbaiki niat istiqomahnya? Sudahkan di-upgrade istiqomahnya?
Insya Allah, Allah akan selalu mendampingi hamba-Nya yang senantiasa istiqomah! :)
Sudah siap kembali 100% dan kembali istiqomah? :)
Ayo, berpacu, semoga kita kembali dipertemukan di Jannah kelak, aamiin. :)
Renungan: surat Ash-Shaff
dakwatuna.com - As-Shaff yang bermakna barisan adalah salah satu surat dalam Al-Qur’an yang patut menjadi bahan renungan bagi para da’i. Surat ini merupakan Ma’alim fii at-Thoriiq (petunjuk jalan) bagi aktivis dakwah. Surat ini walaupun pendek tetapi mencakup semua yang dibutuhkan para da’i dari aqidah, akhlak, sejarah, ukhuwah, obyek dakwah, sampai pada puncak ajaran Islam, yaitu Jihad di jalan Allah. Sehingga para kader wajib menghafalnya, mentadaburinya secara berulang-ulang dan mengamalkannya dalam aktivitas dakwah mereka.
Nama surat biasanya menjadi tema sentral dari substansi surat tersebut, demikian juga surat As-Shaff. Shaff adalah sesuatu yang sangat penting dan sangat menentukan keberhasilan dalam dakwah, jihad dan pergerakan Islam. Bahkan kesatuan shaff adalah persyaratan mutlak bagi kemenangan pergerakan dan dakwah Islam. Tanpa adanya kesatuan shaff, maka akan menimbulkan dampak langsung bagi kekalahan dan kegagalan dakwah dan perjuangan. Kisah perang Uhud merupakan salah satu bukti dari kekalahan perang disebabkan shaff yang berantakan, padahal sebelumnya sudah berada diambang kemenangan.
Namun demikian kesatuan shaff merupakan proses panjang dari realisasi aktivis dakwah terhadap nilai-nilai Islam. Kekuatan dan kekokohan shaff apalagi digambarkan Al-Qur’an sebagai kal-bunyaan al-marsuus (seperti bangunan yang kokoh) sangat terkait dengan nilai yang paling fundamental dari aktivis harakoh yaitu aqidah, ukhuwah dan fikrah Islam. Tanpa ada kekuatan aqidah, ukhuwah dan pemahaman yang mendalam terhadap fikrah Islam, maka mustahil kesatuan dan kekokohan shaff yang digambarkan Al-Qur’an dapat tercapai. Maka marilah kita merenungi apakah shaff dakwah kita sudah kokoh ? Apakah shaff Partai kita sudah bersatu dan kuat kal-bunyaan al-marsuus ?
Dan jika kita melihat realitas Partai Dakwah sekarang, maka sesungguhnya kita sangat membutuhkan pemimpin, figur dan tokoh Dakwah yang dapat mengokohkan shaff dan ukhuwah itu. Karena kesatuan shaff dan kekuatan ukhuwah adalah sesuatu yang paling prinsip dan mendasar dalam dakwah ini. Kita sangat membutuhkan pemimpin teladan yang dapat menjadi panutan para aktivis dakwah lainnya. Kita membutuhkan pemimpin yang zuhud yang dapat membebaskan dirinya dari fitnah harta dan jabatan.
Perjalanan dakwah masih panjang dan ujian dakwah sudah menghadang ditengah kita. Terkadang para da’i berhasil menghadapi ujian kesulitan dan penderitaan, tetapi tidak berhasil menghadapi ujian kemudahan dan kelezatan dunia, baik harta, wanita maupun jabatan. Dan demikianlah yang pernah diungkapkan oleh generasi terdahulu kita: Ubtuliina bid-dhorraa fashabarnaa ubtuliinaa bis-sharraa falam nashbir (kami diuji dengan kesulitan, maka kami bersabar, kami diuji dengan kemudahan tetapi kami tidak sabar). Oleh karenanya, hanya aktivis dakwah yang ikhlaslah yang dapat berhasil keluar dari ujian dan fitnah dalam dakwah tersebut
Surat As-Shaff memberikan Ma’alim fii at-Thariiq bagi para da’i agar tidak menyimpang dalam dakwahnya dan agar tetap teguh dalam shaff yang rapi dan kokoh walaupun ujian, fitnah dan cobaan dalam dakwah datang menghadangnya. Dan marilah kita renungi satu-persatu ayat-ayat dalam surat tersebut.
Tasbih kepada Allah (At-Tasbiih Lillah)
سَبَّحَ لِلَّهِ مَا فِي السَّمَوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ
1. Bertasbih kepada Allah apa saja yang ada di langit dan apa saja yang ada di bumi; dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
Seluruh mahluk Allah yang ada di langit dan bumi melantunkan tasbih kepada Allah SWT. Yang Maha Perkasa lagi Bijaksana. Mereka bertasbih dengan bahasanya masing-masing. Maka manusia sebagai mahluk Allah yang paling sempurna lebih layak untuk bertasbih. Dan para da’i yang senantiasa mengajak manusia agar beribadah dan menyembah Allah lebih layak lagi untuk bertasbih, mensucikan dan mengagungkan Allah SWT. Subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaha illallahu Allahu Akbar. Kehidupan para da’i adalah kehidupan tasbih, dzikir dan do’a. Kehidupan aktivis dakwah adalah kehidupan shalat, tilawah Al-Qur’an dan menyembah Allah SWT.
Modal utama yang harus dimiliki oleh aktivis harakah adalah quwwatus shilah billah (kekuatan hubungan dengan Allah). Tanpa modal itu, maka percuma menjadi kader dakwah dan tidak akan berhasil menjadi kader dakwah. Karena perjalanan dakwah adalah perjalanan yang sulit, berliku, banyak rintangan dan panjang. Dan itu tidak akan dapat dilampui, kecuali aktivis dakwah yang memiliki quwwatus shilah billah. Pelajaran inilah yang kita dapatkan dari turunnya surat Al-Muzammil yang mengiringi tugas berat Rasul saw. mendakwahi kaumnya. Surat Al-Muzzamil mengajarkan kepada para da’i pentingnya membangun quwwatus shilah billah dengan sholat malam dan tilawatul Qur’an.
Kejujuran dalam Berkata (Shidqul Kalam)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا تَفْعَلُونَ
2. Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat?
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ
3. Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.
Allah SWT. menegur keras orang beriman dan aktivis dakwah yang mengatakan apa yang tidak diperbuat, bahkan Allah SWT. sangat membencinya. Karena aktivitas yang dominan dilakukan para da’i adalah dakwah yang banyak menggunakan ucapan. Sehingga ucapan itu harus diselaraskan dengan perbuatan. Karena ucapan yang tidak sesuai dengan perbuatan dan kenyataan adalah dusta yang merupakan sifat munafik. Sehingga kejujuran adalah modal utama berikutnya bagi para da’i.
Dan kejujuran harus dilakukan para da’i dalam dakwahnya. Jujur dalam menyampaikan risalah Islam, jujur dalam bersikap dan jujur dalam berkata-kata. Salah satu ajaran Islam yang terpenting adalah jihad dan berperang melawan musuh Allah. Tetapi kita menyaksikan banyak para penceramah yang sudah dikenal oleh orang banyak dengan sebutan ustadz atau kyai dan sebutan lainnya tidak jujur dalam menyampaikan Islam. Mereka tidak berani menyampaikan jihad, dan kalaupun menyampaikan kata jihad, maka dibatasinya dalam ruang lingkup yang sempit, yaitu jihad melawan hawa nafsu. Atau semua bentuk jihad disebutkan, kecuali jihad dalam memerangi musuh Allah, baik musuh Allah itu Yahudi, Kristen maupun orang kafir lainnya.
Kejujuran dalam berkata dan bersikap merupakan keharusan bagi setiap muslim apalagi para kader dan pemimpin dakwah yang menyampaikan nilai-nilai Islam. Para kader dakwah tidak boleh memiliki standar ganda dalam perkataan dan sikap. Karena standar ganda akan merusak barisan dakwah dan menggagalkan perjuangannya. Syuro’ yang dilakukan Rasulullah saw. sebelum perang Uhud merupakan sikap kejujuran yang paling baik yang terjadi pada diri Rasul dan sahabatnya. Ketika terjadi musyawarah sebagian besar sahabat menghendaki peperangan dilakukan di luar Madinah, sementara Rasulullah saw. cenderung peperangan dilakukan di Madinah. Pendapat Rasul diikuti sahabat lain, tetapi mayoritas sahabat terutama para pemuda yang belum ikut perang Badar menghendaki perang dilakukan diluar Madinah. Akhirnya, Rasulullah saw. mengikuti pendapat mayoritas dan perang dilakukan diluar Madinah. Dan Rasulullah saw. memimpin langsung perang tersebut. Demikianlah, kejujuran adalah bagian dari prinsip bagi kader dan pemimpin dakwah dalam aktivitas dakwahnya.
Perang di Jalan Allah dalam Satu Barisan yang Kuat (Al-Qitaal fii Sabilillah Shaffan)
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِهِ صَفًّا كَأَنَّهُمْ بُنْيَانٌ مَرْصُوصٌ
4. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.
Kehidupan di dunia sejatinya merupakan peperangan antara kebenaran dan kebatilan. Perang antara para pengikut kebenaran dan pengikut kebatilan semenjak mulai nabi Adam as versus Iblis la’natullah. Inilah logika dan aqidah yang harus melandasi para da’i dalam berdakwah. Dan puncak peperangan adalah perang fisik dan perang peradaban. Peradaban Materialisme dan Peradaban Islam akan terus menerus bersaing dan berperang untuk meraih kemenangan. Peradaban Materialisme di komandani oleh penguasa kafir dan diktator dari dahulu sampai akhir zaman. Mereka adalah Namrud, Firaun, Qorun, Abu Jahal, Abu Lahab, Lenin, Stalin, Hitler, Goerge Bush dan anaknya Goerge Walker Bush, Ariel Saron dll. Sedangkan peradaban Islam dipimpin oleh para nabi as sampai nabi terakhir nabi Muhammad saw. Khulafaur Rasyidin, dan para ulama yang tegak membawa panji kebenaran.
Perang fisik memang jalan terakhir jika orang-orang kafir tidak mempan dengan logika dan fikiran. Karena Islam, sesuai dengan namanya adalah agama cinta damai dan mengutamakan perdamaian. Perang fisik bukanlah tujuan, tetapi sarana agar orang hanya tunduk kepada kebenaran dan agar tidak ada lagi fitnah yang disebarkan musuh-musuh Allah. Islam menghendaki tidak ada kerusakan dan kezhaliman di muka bumi. Dan para da’i bertugas untuk mengajak manusia agar mereka tunduk kepada kebenaran, tidak melakukan kezhaliman dan kerusakan.
Pada saat jalan lain buntu, tujuan perdamaian tidak tercapai dan manusia tidak merasa aman, maka perang fisik adalah sarana yang paling ampuh untuk menegakkan keamanan dan perdamaian tersebut. Allah SWT. berfirman, artinya:” Maka berperanglah kamu pada jalan Allah, tidaklah kamu dibebani melainkan dengan kewajiban kamu sendiri. Kobarkanlah semangat para mu’min (untuk berperang). Mudah-mudahan Allah menolak serangan orang-orang yang kafir itu. Allah amat besar kekuatan dan amat keras siksaan (Nya)” (QS An-Nisaa’ 84).
Mengambil Pelajaran dari Dakwah Para Rasul as. (Akhdzul ibroh min Da’watir Rusul)
وَإِذْ قَالَ مُوسَى لِقَوْمِهِ يَاقَوْمِ لِمَ تُؤْذُونَنِي وَقَدْ تَعْلَمُونَ أَنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
5. Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada kaumnya: “Hai kaumku, mengapa kamu menyakitiku, sedangkan kamu mengetahui bahwa sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu?” Maka tatkala mereka berpaling (dari kebenaran), Allah memalingkan hati mereka; dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang fasik.
وَإِذْ قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ يَابَنِي إِسْرَائِيلَ إِنِّي رَسُولُ اللَّهِ إِلَيْكُمْ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيَّ مِنَ التَّوْرَاةِ وَمُبَشِّرًا بِرَسُولٍ يَأْتِي مِنْ بَعْدِي اسْمُهُ أَحْمَدُ فَلَمَّا جَاءَهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ قَالُوا هَذَا سِحْرٌ مُبِينٌ
6. Dan (ingatlah) ketika Isa Putra Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku, yaitu Taurat dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)” Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: “Ini adalah sihir yang nyata”.
Para Rasul yang besar adalah Rasul yang mendapat gelar Ulul Azmi, mereka adalah nabi Nuh as., nabi Ibrahim as., nabi Musa as., nabi Isa as., dan nabi Muhammad saw. Dan dalam surat ini menceritakan dua nabi besar yang pengikutnya paling besar setelah nabi Muhammad saw. Dan peradaban umat manusia terbesar sekarang dari ketiga pengikut nabi tersebut, yaitu nabi Musa as. nabi Isa as. dan nabi Muhammad saw. Nabi Musa as. diklaim oleh bangsa Yahudi, walaupun mereka sendiri mengingkari ajaran nabi Musa as. dan kitab sucinya. Sedangkan nabi Isa as diklaim oleh kaum Nashrani (Kristen), walaupun mereka mengingkari ajaran tauhid nabi Isa dan kitabnya. Dan kedua nabi besar tersebut berasal dari Bani Israil yang sekarang mendominasi masyarakat barat. Sedangkan umat nabi Muhammad saw. adalah umat Islam yang mendiami dunia Islam dan sebagian di wilayah lainnya.
Kedua ayat diatas menceritakan bagaimana keingkaran umat nabi Musa as. dan umat nabi Isa as pada nabinya. Jadi jika nabi dari kaumnya sendiri saja diingkari, apalagi jika datang nabi dari kaum yang lain, yaitu nabi Muhammad dari bangsa Arab. Inilah yang sekarang terjadi, permusuhan dan kebencian Yahudi dan Nashrani kepada Islam dan umat Islam. Dan aqidah inilah yang harus diyakini oleh semua umat Islam. Allah SWT. berfirman, artinya: “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka” (QS Al- Baqarah 120).
Dan ayat-ayat berikutnya dari surat As-Shaff akan menceritakan bagaimana kebencian dan upaya orang-orang kafir tersebut memusuhi Islam dan umat Islam. Dan bagaimana mereka berupaya semaksimal mungkin memadamkan cahaya Islam tersebut.
Mengetahui Hakekat Orang Kafir (Ma’rifah Haqiqat al-Kuffar)
وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنِ افْتَرَى عَلَى اللَّهِ الْكَذِبَ وَهُوَ يُدْعَى إِلَى الْإِسْلَامِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ
7. Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah sedang dia diajak kepada agama Islam? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.
يُرِيدُونَ لِيُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَاللَّهُ مُتِمُّ نُورِهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ
8. Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci.
هُوَ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
9. Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama-agama meskipun orang-orang musyrik benci.
John Elpostito menawarkan tesis Dialog Peradaban, dan tentu saja teori itu sejalan dengan ruh Islam yang sangat mencintai perdamaian. Namun, mungkinkah Dialog Peradaban tersebut dapat terealisir? Sedangkan Samuel Hutington memiliki tesis tersendiri, yaitu Konflik Peradaban atau Perang Peradaban. Dan nampaknya, tesis inilah yang dekat dengan sifat-sifat orang kafir yang disebutkan dalam Al-Qur’an. Orang-orang yang menolak Islam adalah orang yang paling zhalim, karena mereka menolak kebenaran.
Lebih jauh dari itu orang-orang kafir berupaya sekuat kemampuan mereka untuk memadamkan cahaya Islam dengan segala potensi, kekayaan dan jiwa mereka. Media masa adalah sarana yang paling efektif yang mereka gunakan untuk memadamkan cahaya kebenaran itu. Televisi mereka gunakan untuk merusak citra Islam, dan mempropaganda agama mereka. Pada saat yang sama mereka mempublikasikan segala bentuk kemusyrikan dan kemaksiatan lewat televisi yang mereka kuasai. Misionaris datang ke dunia Islam bersama para penjajah, menawarkan ‘cinta kasih’ dengan makanan, kesehatan dan bantuan lainnya. Cinta kasih yang berisi racun itu banyak membuat umat Islam yang miskin terbuai dan mengikuti mereka. Maka bertebaranlah gereja dan yayasan sosial milik misionaris di dunia Islam. Tetapi pengorbanan dan upaya maksimal yang dilakukan orang-orang kafir untuk memadamkan cahaya Islam tidak akan berhasil. Karena agama ini adalah milik Allah dan Allah akan memenangkan agama-Nya walaupun mereka benci.
Pada saat mereka merasa tidak mampu memadamkan cahaya Islam dengan media masa itu, maka mereka menggunakan senjata terakhir, yaitu perang fisik dan pemusnahan umat Islam. Inilah hakekat yang harus diketahui orang-orang beriman dan para da’i. Hakekat ini telah terbukti dengan realitas yang terjadi. Inilah yang terjadi di Palestina, Bosnia, Irak, Afghanistan, Rusia, India, Pilipina, Thailand, Burma, Singapura, Timor Timur, Maluku dll. Di Palestina umat Islam dibantai oleh Yahudi, di Rusia umat Islam dibantai oleh komunis, di Bosnia, Pilipina, Muluku dll umat Islam dibantai Kristen, di India umat Islam dibantai oleh Hindu, di Thailand dan Burma umat Islam dibantai oleh Budha. Demikianlah umat Islam menjadi musuh bersama, hanya karena mereka menyembah Allah. Dan sangat jika Yusuf Al-Qaradhawi mengatakan bahwa kekafiran adalah satu agama.
Berdagang dengan Allah (At-Tijarah Ma’allah Ta’ala)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَى تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
10. Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih?
تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
11. (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya,
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
12. niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga `Adn. Itulah keberuntungan yang besar.
وَأُخْرَى تُحِبُّونَهَا نَصْرٌ مِنَ اللَّهِ وَفَتْحٌ قَرِيبٌ وَبَشِّرِ الْمُؤْمِنِينَ
13. Dan (ada lagi) karunia yang lain yang kamu sukai (yaitu) pertolongan dari Allah dan kemenangan yang dekat (waktunya). Dan sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman.
Setelah para da’i mengetahui tentang hakekat orang-orang kafir, kemudian Allah mengajak mereka pada suatu bisnis yang menguntungkan mereka dunia dan akhirat. Karena musuh-musuh Allah hanya dapat dihadapi dan dikalahkan oleh orang-orang yang siap berbisnis dengan Allah. Namun demikian bisnis ini syaratnya berat, sehingga tidak semua orang beriman mengikutinya. Bisnis ini syaratnya adalah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa. Hanya orang yang tahu (berilmu) agama yang mendalamlah yang dapat mengikti bisnis ini. Ilmu yang membuat orang beriman semakin khusu’ dan lebih mengutamakan kehidupan yang mulia dan kehidupan yang kekal di akhirat.
Bisnis ini sangat besar imbalannya, yaitu ampunan dari Allah atas dosa-dosa yang dilakukan, surga Allah yang penuh dengan kenikmatan berupa air yang mengalir, dan rumah-rumah yang indah. Dan tambahan yang lain berupa pertolongan Allah dalam kehidupan dunia dan kemenangan yang dekat atas musuh-musuhnya. Jihad memang satu-satunya jalan menuju kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Kabar gembira ini diperuntukkan bagi orang-orang beriman, yaitu orang yang tidak tertipu dengan segala fasilitas dunia. Orang beriman tidak mudah tunduk patuh dan loyal kepada orang-orang kafir dan fasik. Orang beriman menjadikan aktivitas politiknya untuk kemenangan Islam dan umatnya, bukan untuk memperkaya diri sendiri dan keluarganya. Orang beriman adalah orang yang yakin akan hari akhirat dan perjumpaan dengan Allah sehingga berupaya zuhud dari kehidupan dunia dan tidak membuat istana di dunia. Allah SWT. berfirman, artinya: “Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS Al-Qashash 83)
Jadilah Penolong Allah (Kunuu Anshrallah)
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا كُونُوا أَنْصَارَ اللَّهِ كَمَا قَالَ عِيسَى ابْنُ مَرْيَمَ لِلْحَوَارِيِّينَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ فَآمَنَتْ طَائِفَةٌ مِنْ بَنِي إِسْرَائِيلَ وَكَفَرَتْ طَائِفَةٌ فَأَيَّدْنَا الَّذِينَ ءَامَنُوا عَلَى عَدُوِّهِمْ فَأَصْبَحُوا ظَاهِرِينَ
14. Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penolong-penolong (agama) Allah sebagaimana Isa putra Maryam telah berkata kepada pengikut-pengikutnya yang setia: “Siapakah yang akan menjadi penolong-penolongku (untuk menegakkan agama) Allah?” Pengikut-pengikut yang setia itu berkata: “Kamilah penolong-penolong agama Allah”, lalu segolongan dari Bani Israil beriman dan segolongan (yang lain) kafir; maka kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang.
Dan puncak dari tawaran Allah adalah tawaran untuk menjadi penolong Allah (Anshorullah). Maukah kita menjadi tentara Allah ? Maukah kita menjadi penolong Allah ? Padahal sejatinya Allah tidak membutuhkan pertolongan kita. Tetapi inilah bahasa yang sangat indah, bujukan yang sangat halus, ajakan yang tidak ada yang bisa menangkapnya kecuali orang-orang yang beriman dan para da’i yang hatinya hidup serta siap memberikan sesuatu yang terbaik untuk agama Allah. Dan sebagai buahnya adalah dominasi dan kemenangan Islam serta kejayaan umat Islam. Wallahu A’lam Bishawaab.
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2006/12/15/renungan-surat-ash-shaff-bagi-pada-dai/#ixzz1jCE29z92
